EXHIBITION
These are dangerous times. Never have so many people had access to so much knowledge, and yet been so resistant to learning anything.
-Tom Nichols, The Death of Expertise
Bentala seni dan literatur telah lama hidup dalam naungan gagasan dari Roland Barthes, dalam essainya “The Death of The Author” atau matinya sang penulis. Ia ‘mengkudeta’ penulis atau seniman dan dan memberikan pamadsana tersebut kepada pembaca, penikmat, pemirsa, pendengar, pemerhati. Sebuah tulisan, karya literatur, karya seni, puisi, patung, lukisan, tak lagi diletakkan dalam kotak tertutup dengan kunci untuk menemukan intensi yang hanya dipegang oleh pengarang, seniman, penulis itu sendiri. Walakin, setiap orang bisa bermain dengan makna dan menjalin interpretasi naratif dari apa-apa saja yang mereka pirsa, baca, tonton, nikmati menjadikan setiap tekstual sebagai ‘tissue of quotations’ atau helain interpretasi yang bisa menjadikan bentuk kultur baru hanya dari karya atau teks itu sendiri.
Gagasan yang mendalam dan merevolusi oleh Barthes ini membuat kita tak hanya melihat kanvas lukisan Marth Rothko atau lukisan lolongan Edvard Munch hanya sebatas ekspresi dan statemen dari masa depresi sang artis belaka tetapi sebagai refleksi dari kekhusukkan kita ketika memandang karya tersebut. Gagasan tersebut pula merangsang kita untuk menginterpretasi teks karya Barbara Kruger melalui pengalaman dan preferensi politik kita masing masing. Interpretasi dari karya menjadi lebih beragam, plural, demokratik, dan hidup.
Namun gagasan ini melontarkan sebuah pertanyaan yang mendalam: Jika semua orang mempunyai pemaknaan mereka masing-masing apa yang menjadi sebuah karya seni berbeda dari satu dan lainnya? Mengapa satu karya dengan bentuk dan warna yang sama bisa menjadi sebuah masterpis sementara yang lain mudah untuk dilupakkan? Apakah sebuah karya yang dicitrakan melalui kecerdasan buatan yang bermuara dari pelbagai macam referensi seniman dan bisa diinterpretasi banyak orang itu bisa disebut dengan karya seni?
Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab melalui apa intensi asli seniman dalam karya, melainkan melalui apa yang ada di dalam karya itu sendiri: The quintessence; intisari.
The Quintessence: Sukma dari Karya Seni
Quintessence dalam pemaknaan tradisional bisa berarti pengejawantahan dari suatu hal dan atau intisari yang paling dasar dan mutlak dari suatu hal. Quintessence sendiri berakar dari kata essence yaitu intisari dan di dalam kata essence ada kata esse yang bermakna eksistensi. Tanpa quintessence, essence, dan esse, maka tidak akan ada eksistensi dari hal-hal itu sendiri.
Dalam seni, Quintessence adalah inti dari inti dari sebuah karya yang tak bisa terperikan. Ia adalah sebuah sintesa unik gabungan dari komposisi, tekstur, resonansi emosional, konteks historis, dan provokasi intelektual yang memberi sebuah karya seni sebuah sukma. Ia adalah perbedaan antara potret sinar matahari lukisan Vermeer; antara karya slogan politik belaka dan lukisan Guernica dari Picasso. “The Death of The Author” tidak membunuh quintessence; Ia memindahkan responsibilitas untuk berinteraksi dengan quintessence tersebut dari hanya oleh sang seniman kepada para pemirsanya. Para pirsawan bebas untuk menginterpretasi karya, lamun kedalaman dan kekayaan interpretasi mereka juga diwatasi oleh kedalaman dan kekayaan quintessence karya itu sendiri. Quintessence tersebut harus hadir dan dapat dirasakan oleh pirsawan bukan melalui biografi atau artikel mengenai seniman tetapi melalui pengalaman estetis antara pirsawan dan karya seni tersebut secara alamiah.
Banjir Digital dan Kemunculan “Seniman” Kecerdasan Buatan
Selamat datang di era sekarang, disambut dengan gegap revolusi kecerdasan buatan regeneratif. Disini, janji demokratis tentang “The Death of The Author” diintensifkan secara serampangan dan berlebihan hingga berpotensi menjadi kiamat budaya, yang dengan sempurna menggambarkan metanoia Tom Nichols soal “The Death of The Expertise” atau kematian sang ahli. Author atau pengarang dan seniman bahkan tak memiliki independensi atas karya mereka; diobrak abrik dan interpretasi serampangan oleh algoritma komputer dan model bahasa tingkat lanjut; dijadikan referensi untuk menggeneratif karya yang tampak baru namun tanpa esensi.
AI image generator atau kecerdasan buatan pembuat citra membawa gagasan “The Death of The Author” secara harfiah dan kedalam tingkat yang absurd: tidak ada penulis. Yang ada hanyalah prompter, alogaritma, dan kumpulin data anonim yang luas. Siapa saja yang memiliki koneksi internet kini bisa ‘menciptakan’ gambar, tulisan, video, yang memukau secara visual dan canggih secara teknis belaka.
Di era inilah “The Death of The Expertise” mulai menampakkan dirinya. Gagasan “The Death of The Author” yang membantu kita membedakan hal yang mendalam dari yang sepele, kini tenggelam dalam keramaian kebisingan banjir digital. Logika algoritma menggantikan logika seni. Kita secara langsung berada di bangku depan sejarah pertunjukan “The Toxic Cocktails” yang dikoinkan oleh Tom Nichols: “Cult of the Amateur” di mana mengetik prompt dianggap setara dengan upaya kreatif bertahun-tahun pengalaman berkesenian, seringkali menyeloroh “Saya membuat ini dengan AI” dengan merasa memiliki bobot budaya yang sama seperti “Saya menghabiskan setahun untuk melukis karya ini.” Hal tersebut diikuti dengan teori selanjutnya yaitu “Rejection of Established Knowledge” atau penolakan terhadap pengetahuan yang telah terbukti seperti menolak mempelajari nirmana, trimarta, komposisi, warna, pencahayaan, dll. hanya karena mengetik prompt di AI lebih muda. Akhirnya gagasan ini bermuara di “Conflation of Popularity with Quality,” dimana gambar AI yang secara visual lebih menarik menjadi viral budaya dan lebih dielu-elukan hanya karena lebih populer ketimbang karya yang kompleks, kaya akan esensi, dan dalam yang membutuhkan lebih banyak kesabaran untuk dipahami.
Dalam lanskap era baru ini, kematian sang penulis telah disalahartikan. Kita tak hanya membunuh sang penulis; kita telah mengaspal di tanah tempat mereka dikubur dan membangun pusat perjudian di mana siapapun bisa menarik tuas dan menyebut diri mereka pemenang.
Quintessence Sebagai Tameng Akhir
Dalam carut marut banjir digital ini, konsep quintessence lebih penting dari sebelumnya. Kita tidak lagi berada dalam ranah “esensi lukisan di kanvas lebih baik dari fotografi” atau “gambar manual lebih dalam daripada gambar digital” melainkan pada ranah manusia melawan komputer. Quintessence-lah yang membedakan seni dari sekadar gambar buatan kecerdasan buatan. Sebuah gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan walaupun memiliki keajaiban teknis akan tetapi didalamnya tidak ada esensi melainkan hanya ‘meminjam’ quintessence. Gaya seninya diambil dari referensi juataan seniman manusia atau dari seniman populer. Komposisinya adalah rata-rata statistik yang dianggap secara visual menarik bersumber dari data komputer. Ia dapat meniru ‘gejala makna’ tetapi tidak dapat meniru esensi: kesadaran manusia yang berjuang untuk eksistensinya dalam dunia.
Quintessence dari karya seni yang dibuah tangan manusia memiliki personalitas atas usaha, intensi, dan pengalaman yang membekas. Goresan tangan yang terlihat, gambar tangan yang tidak sempurna, ketelitian dan konsep, momen yang ditangkap dalam seni, menciptakan esensi yang mendalam dan beresonansi kepada ‘pembacanya’ yang tidak dapat dihasilkan oleh AI yang hanya berfungsi sebagai mesin pencocokan pola.
Lantas, di mana posisi kita?
“The Death of The Author” mengajarkan kita bahwa makna dari sebuah karya adalah hasil kolaborasi. “The Death of The Expertise” memperingatkan bahwa tanpa guidance, kolaborasi hanya akan berubah menjadi kekacauan. Peran pirsawan, seniman itu sendiri, kritikus, dan publik yang melek budaya di abad 21 ini bukanlah untuk menyembah penulisan atau menyerah pada arus utama populer melainkan untuk menjadi pencari dan pelindung quintessence atau esensi.
Kita semua harus belajar untuk melampaui kemegahan eksekusi teknik dan mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: Apakah karya ini memiliki jiwa? Apakah karya ini mengandung kompleksitas? Apakah karya ini beresonansi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi manusia? Atau apakah karya ini hanya cangkang yang indah namun kosong? Dsb. dsb.
Pada akhirnya, quintessence sejati dari sebuah karya seni adalah yang memastikan bahwa kematian sang pencipta adalah awal, bukan akhir. Itu adalah jaminan bahwa bahkan ketika pencipta telah tiada (baik metafora maupun harfiah), dan bahkan ketika semua orang berteriak, suara-suara terdalam akan tetap menemukan cara untuk didengar.
Melihat melampui Essence
Syahdan, di era yang tersaturasi oleh kecerdasan buatan dan devaluasi dari para ahli, seruan untuk mencari esensi sejati suatu karya (sintesis inti dari bentuk, sejarah, dan emosi) adalah sebuah langkah yang tepat bagi seniman, penulis, maupun pembaca dan penikmat. Ini adalah landasan yang memisahkan seni yang diciptakan oleh manusia dari konten yang dihasilkan secara algoritmik.
Namun, apa yang terjadi ketika kita melampaui lapisan dasar ini? Apa yang ada di balik esensi?
Inilah wilayah Post-Quintessence.
Jika esensi adalah inti paling murni dan terasah dari sebuah karya (’apa’ yang membuatnya unik), maka Post-Quintessence adalah pengakuan akan tindakan keberadaan yang tak terbatas yang terpancar dari inti tersebut. Ini adalah energi, ‘keberadaan’, jejak sisa dari peristiwa kreatif itu sendiri. Sementara quintessence mendefinisikan batas-batas spesifik suatu benda (apa yang membuat mawar menjadi mawar, bukan tulip), Post-Quintessence berurusan dengan esse yang tak terbatas (tindakan murni keberadaan) yang termanifestasi melalui batas-batas tersebut.
Dalam kerangka ini, seni bukan sekadar wadah untuk esensi yang disempurnakan, tetapi catatan dari proses penyederhanaan ekstrem, sisa positif atau “endapan” dari tindakan kreatif yang begitu terfokus sehingga hanya meninggalkan apa yang mutlak diperlukan untuk menyampaikan tindakan keberadaannya. Ini bukan label atau gerakan baru, tetapi cara baru dalam melihat: bahwa inti dari inti, esensi dari esensi, dan tindakan keberadaan (esse) yang dimilikinya lebih penting daripada bentuk atau label seni itu sendiri.
Dalam konteks kecerdasan buatan, inilah pembeda utama. Sebuah AI dapat meniru gaya, tetapi tidak dapat memiliki ‘esse’ dari kesadaran manusia yang berjuang dengan keberadaan. ‘Esse’ adalah sidik jari yang tidak dapat diukur dari makhluk tertentu dan terbatas yang berusaha untuk mengekspresikan diri. Itu adalah ‘mengapa’ ia ada sama sekali, sebuah pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab oleh algoritma. Kita harus belajar merasakan energi sisa dari perjuangan kreatif, untuk merasakan esensi tak terbatas yang bersinar melalui karya yang terbatas dan spesifik. Inilah obat penawar terakhir dan paling vital terhadap pertunjukan kosong era digital. Inilah cara kita memastikan bahwa kematian penulis dan kekacauan kematian keahlian tidak menjadi akhir, tetapi gerbang menuju keterlibatan yang lebih dalam dan mendalam dengan apa artinya suatu hal ada.
If you are interested with the artworks, please contact us through e-mail ningartspace@gmail.com
Ning Art Space
Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. 55184
Phone Number: +628xxxxxxxx
E-mail: Contact@ningart.com
Ning Art Space
Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, Special Region of Yogyakarta, Indonesia. 55184
Phone Number: +628xxxxxxxx
E-mail: Contact@ningart.com